Pagi sebelum matahari menyingsing dari arah timur, terdengar riuh letupan minyak goreng menguar bersama telur dadar. Di dapur sepetak rumah berwarna kuning berukuran 15 X 7 meter persegi. Jarodah sedang menyiapkan telur dadar untuk sarapan anak dan suaminya di pagi hari sebelum beraktifitas. Nasi sudah disiapkan dimalam harinya. Sehingga di pagi harinya ia tidak perlu menanak nasi, karena hanya akan menambah pekerjaan dan waktunya tidak cukup karena Jarodah harus berangkat pukul 05.00 pagi.
Jiwa keibuan menyayat hati ketika si kecil bangun sebelum ia pergi, suara rengekan yang begitu keras mengharuskan Jarodah untuk menenangkan buah hatinya terlebih dahulu sebelum di tinggal bekerja. Ayunan gendongan sambil berjalan di pelataran menjadi salah satu cara Jarodah untuk menenangkan buah hatinya. Namun, ketika itu gagal, senjata pamungkas yang ia lakukan ialah memberinya dia Smartphone berisi game dan Youtube kepada buah hatinya. Sampai pada akhirnya si kecil sudah mereda tangisnya dan Jarodah mencoba pamit dengan mengecup keningnya, kemudian meninggalkannya dengan pesan
“*Ojo Nakal nggih, Ibuk kerja disik”* Ungkapnya.
Anggukan kesedihan dari buah hatinya terlihat jelas waktu itu, mengiyakan namun tidak merelakan keberangkatan ibunya untuk bekerja.
Pagi itu udara masih terasa segar, suara sapu lidi yang menggerus tanah tertanda bahwa tentangga mulai beraktifitas membersihkan halamannya dari sisa dedaunan yang berjatuhan akibat terpaan angin malam. Di pelataran rumah Jarodah, tidak ada pohon sehingga sampah dedaunan tidak begitu banyak, hanya saja ada beberapa dedaunan tetangga yang terhempas oleh angin yang mengotori halamannya. Jarodah pagi itu tidak membersihkan halamannya karena jam masuk kerja semakin dekat, ia bergegas menghidupkan motornya dan segera berangkat ke pabrik tempat ia bekerja.
Jarodah adalah satu dari ribuan buruh pabrik yang bekerja di sana. Relasipun terjalin dengan baik. tak khayal ketika di jalan, suasana kekeluargaan muncul begitu erat, bertegur sapa dijalan, nebeng, hingga berjalan barsama menuju pabrik. suasana kehangatan itu muncul karena memang mereka saling menenal dan menikmati apa yang dia kerjakan selama ini, karena sejatinya, apapun pekerjaan yang berlandaskan dengan hati yang riang akan berdampak positif bagi dirinya dan orang orang di sekitarnya.
Sesampainya dipabrik, Jarodah segera menempatkan diri ditempat yang ia sukai. Ramai sekali, pabrik itu bisa menampung (Berapa Orang) dan perempuan yang mendominasinya, banyak perempuan yang bekerja dipabrik rokok, karena memang perempuan lebih cekatan dalam hal menggiling rokok. Bukan karena eksploitasi atau kesetaraan gender. Tapi memang inilah kelebihan dari perempuan yang lebih rapi dan cekatan dalam membentuk suatu kerajinan dari pada laki laki.
Menggiling rokok adalah proses melinting tembakau dengan kertas papir sehingga membentuk batang rokok. Kerapian dan kecermatan dalam menggiling inilah yang menjadi pertimbangan pabrik rokok memperkerjakan perempuan. Bukan mengaggap perempuan lemah dan tidak bisa bekerja dalam bidang lain, akan tetapi perusahaan mengharagai kelebihan perempuan dalam soal kerapian dan kecermatannya dalam menggiling sehingga perusahaan menempatkan perempuan di bidang penggilingan.
*“ya mas, biasane ki cah wedok luweh rajin nek masalah giling dadine cah wedok sing luweh dibutuhke pabrik dalam urusan giling”* tuturnya sambil berjalan dari titipan sepeda motor.
Pukul 05.30 pagi itu. Buruh buruh lain mulai berdatangan, ada yang memakai sepeda, ada yang berjalan kaki, ada pula yang dihantarkan oleh anaknya yang masih terlihat wajah bantal karena memang masih mengantuk dan disuruh untuk menghantarkan ibunya bekerja.
Ketika jam kerja dimulai, dan buruh mulai masuk, tempat itu sudah bersih dan berjajar rapi dengan penggiling rokok di atas meja yang sudah siap. (sebutkan alatnya apa saja). Dan ia bebas mau pilih tempat yang mana,
*“aku milih panggon neng kene mas”* katanya. Jarodah.
Dengan bergegas, jarodahpun segera menggiling rokok, terlihat kelentikan tangan Jarodah saat menggiling tembakau, dengan gesit dan cepat, satu dua hingga berpuluh batang sanggup ia kerjakan hanya dalam waktu (). Tak dapat dipungkiri, dari cara kerja Jarodah yang begitu gesit dan cepat menggiling tembakau menjadi bukti bahwa ia memang sudah lama bekerja disana.
*“Aku mulai bekerja dari tahun 2002 mas sampai sekarang”* tuturnya sambil menggiling tembakau.
Jarodah sudah bekerja selama 20 tahun menggiling rokok. Hal itu terbukti dari cara ia menggiling rokok dengan lentik dan rajin. Dalam sehari ia bisa menggiling sebanyank 4-5 ribu batang.
*“ngene iki mas, sewu batange di rego 38.200,biasane aku entuk 4-5 ribu batang, lha nanti dibagi 2 karo sing mbathil”* ucapnya.
Perempuan itu bekerja dengan sistem upah Borongan, sistem upah Borongan adalah sistem pembayaran harian yang dihitung dari hasil mereka bekerja. Upah yang diterima setiap seribu batang rokok yang sudah jadi ialah 38.200 namun biasanya dikerjakan oleh dua orang, yang biasa disebut *Mbathil.* Mbathil merupakan proses merapikan serabut yang ada di batang rokok setelah di giling.
“*biasane nek rokok bar digiling kan isih ono serabut mbakone mas. Lha iku mengko dipotong karo sing bagian mbathil”* kata seorang pembathil di sisi kanan Jarodah. Dua pasang perempuan penggiling dan pembathil itu menggiling lalu merapikan sebatang rokok dengan cepat. Tentu penuh ketelitian, lengah sedikit jari mereka bisa luka karena gunting.
Jika per seribu batang mendapatkan 38.200 artinya jika dibagi menjadi dua. Seorang penggiling dan pembathil masing masing akan mendapatkan 19.100, namun hitung hitungan itu tidak berlaku untuknya, ada pemahaman rasa, dan kemanusiaan dalam membaginya. “semono rekosomu, semunu olehmu” kata teman Jarodah. Jadi upah yang dibagi tidaklah sama, karena pembathil memahami pekerjaan penggiling lebih berat. Upah penggiling bisa lebih tinggi yaitu 22.200 dan pembathil hanya 16.000 per seribu batang yang mereka selesaikan.
Namun hal itu biasa bagi mereka, besaran upah yang terpaut 7.200 tak membuat mereka merasa kurang, karena memang mereka menyadari apa yang dia kerjakan, sehingga tak da demo, tak ada pertikaian, yang ada sendau gurau tentang panci di rumah kenapa berwarna hitam. Dengan nada terkekeh *“ahahaha moso panci ning omah ireng kabeh goro goro kompor”* candaan itu muncul ketika mereka sedang asik bekerja.
Jam istirahat tidak ditentukan oleh perusahaan, mereka bebas memilih kapan waktu untuk beristirahat, namun jika mereka terlalu lama beristirahat, hasil pekerjaan mereka hanya sedikit. Biasanya waktu istirahat yang diaambil cukuplah singkat, sesingkat meregangkan anggota tubuh ditambah habisnya 4 butir klepon yang dibeli diluar sebelum masuk ke dalam pabrik.
Semakin siang, aroma tembakau semakin menguat, matahari pun semakin terik, bau keringat mulai tercium. Jam kerja sebentar lagi usai. Waktu menunjukan jam 12.00 tepat. Dan pekerjaan akan selesai pukul 13.00, satu jam lagi. Sudah 4 ribu batang lebih yang sudah tergiling rapi oleh Jarodah, satu jam terakhir ia mencoba memaksimalkan untuk menggenapkan jumlahnya menjadi 5 ribu batang. Akan tetapi di siang itu mulai terlihat lelahnya tangan yang tak lagi gesit dari pada di pagi hari, energi Jarodah sudah terkuras selama 7 jam. Namun ia tetap menggiling dengan perlahan dengan penuh harap 5 ribu bisa tercapai.
“Wis awan mas, kesel. Yo sak entuke mas nek ngene iki,” kata Jarodah. Waktu sudah menunjukkan 13.00. kerjapun selesai. Buruh buruh lain dan Jarodah bergegas membersihkan tempat ia bekerja, menyisihkan sisa sisa tembakau yang tercecer dan merapikan tempatnya seperti semula sebelum ia tinggalkan.
Di sisa hari itu, Jarodah keluar pabrik tak langsung pulang, ditengah teriknya matahari, ia menuju ke pedagang sayur yang ada didepan pabrik, sekedar membeli sayur dan bahan makan siang untuk di masak di rumah. Selayaknya pasar tradisional proses transaksi tawar menawar masih begitu lekat, di pasar banyak masyarakat sekitar yang mencoba peruntungannya kepada buruh pabrik dengan menjual berbagai sayur, buah buahan, tempe, tahu dan lain sebagainya. Mereka berasal di daerah sekitar pabrik.
Ngiang keramaian kenalpot kendaraan buruh pabrik terdengar melintasi pasar yang berada di tepi jalan, ramai sekali pasar itu, nadi perputaran ekonomi yang terjadi di pasar itu janganlah dianggap remeh, pasalnya ada pedagang yang menggantungkan nasibnya kepada para pekerja perusahaan dengan menggelar lapak di pasar itu, “Nek ora ono buruh pabrik, sempolanku gak payu, Mas,” ucap seorang pedagang sempolan, Kholis.
Kholis yang kesehariannya menjual sempolan di pasar sangat bergantung kepada buruh yang bekerja di perusahaan itu, ia mengaku dari berjualan itu cukup terbantu untuk makan sehari hari, jika buruh pabrik libur, ia kebingungan ingin menjual sempolannya kepada siapa, karena target pasarnya sedang tidak masuk kerja. Tak mungkin ia berkeliling ke rumah buruh pabrik sebanyak itu.
Seikat bayam, dan beberapa tahu, tempe dan ikan sudah di tangan, Jarodah kemudian bergegas menuju penitipan sepeda motor, untuk mengambil kendaraannya. Ia pun pulang membawa bahan masakan, untuk sajian makan siang keluarganya. Setengah dua siang Jarodah sampai di rumah. ia kemudian masuk ke dalam rumah untuk membersihkan badannya, karena seharian bekerja. Anaknya sudah menunggu di ruang tamu rumahnya. Jarodah meluangkan waktu untuk istirahat di sebelah anaknya.
"Kenang sampun maem dereng?" ujar Jarodah. "Adik sudah makan belum?"
"Dereng, Buk," jawab buah hati kesayangannya.
Di rumah itu, Jarodah tinggal bersama keluarga kecilnya, ia memiliki 3 orang anak, 2 sudah sekolah dan 1 masih balita. Ia biasanya menitipkan anaknya kepada tetangganya dengan memberikan upah 20.000 setiap harinya. Suaminya bekerja menjadi supir mebel, untuk keluarga Jarodah 2 sumber penghasilan itu cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya, anaknya sekarang sudah berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Kudus. Biaya sekolah yang semakin hari semakin tinggi masih bisa tergapai oleh keluarga Jarodah dengan bekerja menjadi buruh pabrik rokok.
Sumber ekonomi keluarga Jarodah memang hanya ada dua. Darinya bekerja menjadi buruh pabrik rokok dan dari suaminya bekerja menjadi supir mebel. Namun hal ini tidak bisa disepelekan. Karena pada dasarnya suatu rumah tangga bisa diukur tingkat kemiskinan bukanlah dari berapa nominal upah yang keduanya terima. Akan tetapi kemiskinan diukur dari jumlah pengeluaran setiap bulan dalam satu keluarga. Jumlah pengeluaran di kerucutkan lagi menjadi jumlah pengeluaran kebutuhan pangan keluarga. Yang nantinya bisa menjadi ukuran kemiskinan sebuah keluarga.
Mengapa demikian, alasannya bahwa pengeluaran yang kita keluarkan setiap hari bersumber dari kebutuhan perut dan kita seringkali lupa dengan itu. Salah kaprahnya ukuran kemiskinan yang diterapkan selama ini bersumber dari berapa jumlah pendapatan setiap keluarga, bukan dari berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sembako. Karena hal ini paling dasar yang ada dalam diri manusia, misal saja, jika pengeluaran kebutuhan perut dapat kita tekan, kemiskinan adalah keniscayaan.
Keluarga Jarodah yang hidup dari 2 sumber penghasilan berhasil melewati kemiskinan, ia sanggup membeli sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya, andaikan saja Jarodah tak bekerja, dan kebutuhan perut tak tersedia. Karena penghasilan suaminya dipakai untuk menyekolahkan anak anaknya dan membeli kebutuhan primer lainnya. Apa yang terjadi pada keluarga kecil itu ? Iya. Peperangan. Mengutip dari Pak Roemtopatimasang beliau berkata bahwa perang dunia ke satu dan dua tak lain disebabkan oleh dua sumber yaitu Pangan dan energi. hirarki kebutuhan manusia Abraham maslow juga berpendapat bahwa kebutuhan yang paling mendasar ialah kebutuhan biologis. Yaitu pangan.
Jarodah Kembali melanjutkan aktivitasnya, memasak untuk keluarga. Keluarga sederhana itu tidak berlebih lebih ketika menyajikan makanan, hanya ada sayur bayam, tempe, tahu sambal dan ikan di meja makan. Nasi yang tadi malam ia masak masih terhangatkan di penanak nasi listrik miliknya. Tak berselang lama sajian makan siang pun sudah tersedia di meja makan. Anak anaknya pun bergegas mengambil piring dan nasi kemudian duduk bersama, kala itu ketiga anaknya berada di rumah karena pembelajaran di sekolah masih dilakukan lewat online, namun suaminya belum bisa pulang karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
Nafas kehidupan ekonomi masyarakat kecil begitu lega ketika disandarkan kepada pabrik rokok, kehidupan Jarodah terpenuhi dengan ia bekerja disana. “Aku arep dodolan yo butuh modal, Mas, dan aku ora ndue modal,” kata Jarodah. upah yang diterima Jarodah memang hanya kurang dari 100.000 rupiah setiap hari, belum lagi terpotong oleh jasa penitipan anak. Namun ada jaminan lain yang ikut menunjang kehidupannya, misalnya ketika ia cuti persalinan selama 3 bulan, ia bisa mendapatkan uang kurang lebih 7 juta rupiah, jaminan Kesehatan dengan BPJS juga ada, dan ketika lebaran ia bisa membeli baju baru karena menerima THR dari perusahaan.
Prinsip sederhana dari mereka ialah “Sing penting dino iki iso mangan, bodo tuku klambi anyar,” tutur Jarodah. selain Jarodah yang bekerja menjadi buruh pabrik, masyarakat di sekitar pabrik juga terbantu perekonomianya, roda ekonomi berjalan ketika pasar yang berada di sekitar pabrik aktif menjajakan dagagangannya, hal yang sederhana tetapi akan berdampak buruk ketika komunitas ini tidak ada, ada relasi sosial yang terbentuk dari komunitas masyarakat terhadap industri, saling bergantung satu sama lain. Industri tidak bisa memproduksi rokoknya jika tidak ada buruh, buruh tidak akan terbantu kehidupannya jika tidak bekerja, dan pedagang pasar akan kehilangan konsumennya jika buruh tidak ada.
Pola pola seperti itu seharusnya yang kita baca selama ini, sayangnya kita lebih suka testimoni dibanding fakta. Benar kata Pak Roem “Banyak yang punya mata, tapi tidak melihat apa apa” hanya penghakiman dan penghakiman terus menerus yang kita lakukan tanpa ada solusi yang ingin ditawarkan. Jika kalian anti rokok matamu mbuk ya ngeti boss, mbuk ya jangan tinggi tinggi kalau ngomong, kesampluk pesawat cangkemmu malah.
Lihatlah dengan mata, bahwa ada orang orang yang bertahan hidup dengan menjadi buruh rokok yang sehari harinya bekerja sebelum pagi demi menghidupi keluarganya. Pun mereka tidak menafikan kalau kadang juga merasa kurang. Tapi hidupkan memang begitu, kadang di atas kadang arsenal. Eh maksud saya di bawah. Memang kehidupan seperti itu, dari itu makannya kita harus melihat dengan sudut pandang yang luas agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu dengan sumbu pendek. Jangan pas di bawah lalu asal ambil judul Belenggu kemiskinan buruh pabrik rokok mirip jurnalnya mbak Dian Maulina Widjayanti.